Postingan

TAPAK BERDERAP (13) HAMPIR tanpa sadar amplop lembut mewangi itu kembali diraih Sang Kembara. Secara perlahan penuh kehati-hatian ia membuka amplop warna biru dan membaca tulisan itu, tulisan bertinta biru berbait tujuh. Debar hati Kembara masihlah sama saat pertama kali membaca. Bait pertama dan ketujuh paling berkesan. ... Api itu ternyata belum padam, terlihat jelas di garisan matamu ketika kita tidak sengaja bertukar pandang, caramu menatapku menggambarkan dengan jelas bahwa tapakanku masih ada di sana ... Aku di sini masih menatap tajam pada gambaran angan yang tak berhenti dikejar waktu dalam waktuku yang tersisa ini, mengharapkan harummu masih di sisi, .... Seusai melipat kembali amplop itu, Sang Kembara hanya melanggut menepis galau gulana.
TAPAK BERDERAP (12) KABUT tipis mulai menyentuh lembab setapak ini. Senandung senja pun menghentikan langkah Sang Kembara. Kesunyian berselubung kabut ini memancing dia melantunkan sebuah tembang lawas milik Mr. Mister. The wind blows hard against this mountainside Across the sea into my soul It reaches into where I cannot hide Setting my feet upon the road My heart is old it holds my memories My baby burns a gemlike flame Somewhere between the soul and soft machine Is where I find myself again Kyrie Eleison Down the road that I must travel Kyrie Eleison Through the darkness of the night Kyrie Eleison Where I'm going will you follow Kyrie Eleison On a highway in the light When I was young I thought of growing old Of what my life would mean to me Would I have followed down my chosen road Or only wished what I could be * Broken Wings >>
TAPAK BERDERAP (11) FAJAR dan senja datang silih berganti, Sang Kembara pun tetap menjejaki jalanan terbentang di depan. Menapaki tanah lembab dengan derap langkah kaki yang menginjak bayangan sendiri menuju arah mentari terbenam. Ya, saat ini bayangan tubuhnya memang agak condong ke muka. Peluh pun tak banyak membasahi kemeja, bahkan topi rimba tetap bertengger di kepalanya. Perjalanan hari ini memang terasa ringan, seringan suasana hati Sang Kembara saat ini. Sebentar lagi Sang Surya tergelincir di ufuk barat dan malam berbintang bakal tersenyum kepadanya, seperti hari-hari ke belakang. Sang Kembara sangat merindu kerlip gemintang, hiasan angkasa biru kelam. Walau bintang paling bersinar itu tak tergapai, ia sangat memahami bahasa langit. Kerlap cahaya di atas sana yang berjarak tak berbilang itu seakan menemani istirahat malam Sang Kembara. Bahkan, Sang Jelita Malam terbawa dalam mimpinya. Dia bercengkerama mesra dengan Zohrah, Dewi Venus, mengusir penat sejak fajar hingga senja tad...
TAPAK BERDERAP (10) JALAN masih meletihkan sepasang kaki ini, masih teramat jauh bukit berawan perak itu. Namun senandung wana dan lirih jiwa tetap menyertai Sang Kembara, seiring luruhnya daun-daun tua memenuhi setapak nan basah ini. Dan jarak maupun waktu, kini tak lagi membebani.
TAPAK BERDERAP (9) THE long and winding road That leads to your door Will never disappear I’ve seen that road before It always leads me her Lead me to you door The wild and windy night That the rain washed away Has left a pool of tears Crying for the day Why leave me standing here Let me know the way Many times I’ve been alone And many times I’ve cried Any way you’ll never know The many ways I’ve tried But still they lead me back To the long winding road You left me standing here A long long time ago Don’t leave me waiting here Lead me to your door But still they lead me back To the long winding road You left me standing here A long long time ago Don’t leave me waiting here Lead me to your door Yeah, yeah, yeah, yeah Sebuah lagu lama dari The Beatles itu mengiringi langkah Sang Kembara kali ini...
TAPAK BERDERAP (8) JALANAN terbiar di belakang, beriring senarai alam. Senarai yang mengisi relung hati penuh kelembutan, membenteras pilu tak perlu ini. Terlebih saat mengingat tulisan itu. Tulisan yang mengatakan bila hati telah terpaut, cukuplah kiranya "tatapan mata" walau hanya dibatasi ruang dan waktu. Jenuh pertemuan maya ini pun berujung percakapan hati tanpa kata-kata. Dan, ini semua malah berarti.
"PEMBACA AWAM" ITU T'LAH PERGI (HABIS) DAN sepuluh tahun terakhir ini, cukuplah kiranya mengenal siapa sebenarnya sosok lelaki berkepala plontos serta bertangan kidal tersebut "Orang Awam" Itu Telah Pergi . Boleh dibilang, perjalanan hidupnya cukup beragam. Sebelum menggeluti dunia kewartawanan, ia pernah bekerja di berbagai bidang. Menjadi pengemudi truk kontainer di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara hingga sopir pribadi ekspatriat pun pernah dilakoninya. Memang, banyak orang yang tak mengetahuinya. Beragam bidang pekerjaan yang pernah digelutinya, berwarna pula kehidupannya. Boleh dikatakan abu-abu, tidak putih tidak pula hitam. Begitulah kira-kira meski pada akhirnya aku tak mau ambil pusing. Dengan kata lain, pekerjaan tak perlu dikaitkan dengan urusan pribadi. Nah, berkaitan dengan urusan pekerjaan, dia bisa berlaku sebagai kawan sekaligus musuh. Tak ada pujian yang meluncur langsung dari mulutnya bila pekerjaan kita dipuji orang lain. Sebaliknya, kesal...