TAPAK BERDERAP (19) MALAM ini, Sang Kembara menatap gemintang yang tanpa bertanya menyinari kelam. Dan terus memandang cakrawala membiru pekat di atas sana, Sang Kembara pun membalas dengan senyuman terindah yang pernah dipunyai. Teringat, saat pemilik senyum nan menggoda itu kembali menepuk halus relung hatinya. Ingatan yang dibalut keindahan malam itu dan sekarang. Starry, Starry Nite >>
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TAPAK BERDERAP (17) SAMBUR-limbur menggelayuti ujung telaga dengan surai kabut tipisnya. Dan teratai putih itu kini disirami warna keemasan, indah terak memang. Sang Kembara pun takjub. Tak hanya indah dipandang, seroja itu ternyata berkarib senja keemasan. Terpancar semburat keemasan berselang keperakan, tapi penuh kesahajaan seakan malu digapai. Waktu pun bergulir tanpa terasa. Ya, setiap waktu seroja itu penuh cahaya yang senantiasa berganti sesuai pantulan pergantian waktu dan suasana rimba ini. Entah berapa lama, teratai putih kemilau itu terasing di telaga sunyi ini dan hanya disambangi serangga sambil lalu. Juga tempat peneduh ikan-ikan di sana, kala terik surya menerobos kerimbunan pepohonan. Teratai itu benar terasing... Dan, Sang Kembara hendak menemaninya hingga tak mengenal kata jemu dan akhir. * Can`t Fight This Feeling >>
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TAPAK BERDERAP (16) USAI merapakkan dan melayarkan jelita tirta, Sang Kembara sesaat bergeming kendatipun gelisah merontak. Dan pijakan pun serasa terguncang menahan beban rindu menggumpal. Hingga akhirnya berdiri tak hendak, merangkung begitu jua. Hanyalah sanggup membujur di rebantang pinggir telaga tersebut. Sejenak berselang, pandangan Kembara kembali tertuju pada jelita tirta. Seroja putih itu kilau-mengilau dengan riak-riak perak sekeliling mencipta bening, sebening kilau gemintang yang senantiasa menghiasi rasian dan menggempur jantung Kembara. "Wahai penambat hati, dirimu jua penawar gulana kelasah ini. Ah, andai penantian ini `kan bertepi, perit tiada terpemanai ini pastilah polang-paling," lirih Kembara, tak kalah lirih dengan desir angin yang tak jemu mengombak telaga nan teduh ini.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TAPAK BERDERAP (15) TERATAI itu menepi, namun halus sulurnya mencengkeram dasar telaga, tak tecerabut. Lebar daun padma itu hampir tangkup, Sang Kembara pun membentangkannya dan melayarkan lagi ke tengah. Biarlah seroja putih itu bersemayam di sana walau telaga tak sebening dahulu. Setidaknya, ya setidaknya, penuh sunyi dan damai.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TAPAK BERDERAP (14) PAGI dan kicau burung kembali menyapa riang, namun titik besar di tengah telaga kecil itu menggelisahkan mata Sang Kembara. Perlahan seroja indah itu tenggelam di kebeningan kumpulan mata air tersebut. Mekar padma putih susu itu pun menguncup, entah menangisi telaga yang tak lagi bening atau karena ikan-ikan kecil enggan bermain di dekatnya. Ya, telaga memang tak lagi bening, begitu pula kerumunan ikan yang mungkin telah ke hilir. Selayang kemudian, Sang Kembara merindu. Perasaan itu menggelisahkan lagi, tapi kali ini mengalun lembut.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TAPAK BERDERAP (13) HAMPIR tanpa sadar amplop lembut mewangi itu kembali diraih Sang Kembara. Secara perlahan penuh kehati-hatian ia membuka amplop warna biru dan membaca tulisan itu, tulisan bertinta biru berbait tujuh. Debar hati Kembara masihlah sama saat pertama kali membaca. Bait pertama dan ketujuh paling berkesan. ... Api itu ternyata belum padam, terlihat jelas di garisan matamu ketika kita tidak sengaja bertukar pandang, caramu menatapku menggambarkan dengan jelas bahwa tapakanku masih ada di sana ... Aku di sini masih menatap tajam pada gambaran angan yang tak berhenti dikejar waktu dalam waktuku yang tersisa ini, mengharapkan harummu masih di sisi, .... Seusai melipat kembali amplop itu, Sang Kembara hanya melanggut menepis galau gulana.