Postingan

DIRIMU Di bening malam ini resah rintik gerimis datang menghanyutkan sinar rembulan Buram kaca jendela semuram waktu yang berlalu sedang ku masih menunggu Ungkapkan rasa dan keinginan baikku untuk bersama menempuh jalan hidup Tak usahlah kau ingat bayangan gelap kenyataan diri tanpa sutradara Relakan niat tangan menghapus noda kehidupan dirimu di hadapanku Tetaplah putih demi keinginan baikku untuk menempuh jalan hidup : refrain : Ku ingin selalu dekatmu Sepanjang hidupku... membawamu ke puncak bahagia Ku ingin selalu dekatmu... Nikmati mentari... mendekapmu Di bawah cahayanya (Harry Minggoes-Gank Pegangsaan) NUANSA BENING Oh tiada yang hebat dan mempesona ketika kau lewat di hadapanku biasa saja Waktu perkenalan terjalin sudah ada yang menarik pancaran diri terus mengganggu Mendengar cerita sehari-hari yang wajar tapi tetap mengasyikkan Oh tiada kejutan pesona diri pertama kujabat jemari tanganmu biasa saja Masa perkenalan lewatlah sudah ada yang menarik bayang-bayangmu tak mau pergi ...
TAPAK BERDERAP (20) TIRAI kabut tipis pagi ini menampar halus wajah Sang Kembara sehingga terjaga dari lelap. Arkian Kembara menuju tepi aliran air di ujung lain telaga. Dingin terasa saat air dibasuhkan ke muka. Segar pagi ini seiring pula sejuk hati Sang Kembara. Dan hanya sebuah nama yang tak jemu-jemu dan senantiasa teringat. Ya, hanyalah dirimu jua sang mutiara hati.
TAPAK BERDERAP (19) MALAM ini, Sang Kembara menatap gemintang yang tanpa bertanya menyinari kelam. Dan terus memandang cakrawala membiru pekat di atas sana, Sang Kembara pun membalas dengan senyuman terindah yang pernah dipunyai. Teringat, saat pemilik senyum nan menggoda itu kembali menepuk halus relung hatinya. Ingatan yang dibalut keindahan malam itu dan sekarang. Starry, Starry Nite >>
TAPAK BERDERAP (18) WAKTU kian merambat tanpa terasa. Cepat maupun lamban, hari memang terus berganti, namun Sang Kembara tak bosan membalur resah. Entah sampai kapan... Over The Hills And Far Away>>
TAPAK BERDERAP (17) SAMBUR-limbur menggelayuti ujung telaga dengan surai kabut tipisnya. Dan teratai putih itu kini disirami warna keemasan, indah terak memang. Sang Kembara pun takjub. Tak hanya indah dipandang, seroja itu ternyata berkarib senja keemasan. Terpancar semburat keemasan berselang keperakan, tapi penuh kesahajaan seakan malu digapai. Waktu pun bergulir tanpa terasa. Ya, setiap waktu seroja itu penuh cahaya yang senantiasa berganti sesuai pantulan pergantian waktu dan suasana rimba ini. Entah berapa lama, teratai putih kemilau itu terasing di telaga sunyi ini dan hanya disambangi serangga sambil lalu. Juga tempat peneduh ikan-ikan di sana, kala terik surya menerobos kerimbunan pepohonan. Teratai itu benar terasing... Dan, Sang Kembara hendak menemaninya hingga tak mengenal kata jemu dan akhir. * Can`t Fight This Feeling >>
TAPAK BERDERAP (16) USAI merapakkan dan melayarkan jelita tirta, Sang Kembara sesaat bergeming kendatipun gelisah merontak. Dan pijakan pun serasa terguncang menahan beban rindu menggumpal. Hingga akhirnya berdiri tak hendak, merangkung begitu jua. Hanyalah sanggup membujur di rebantang pinggir telaga tersebut. Sejenak berselang, pandangan Kembara kembali tertuju pada jelita tirta. Seroja putih itu kilau-mengilau dengan riak-riak perak sekeliling mencipta bening, sebening kilau gemintang yang senantiasa menghiasi rasian dan menggempur jantung Kembara. "Wahai penambat hati, dirimu jua penawar gulana kelasah ini. Ah, andai penantian ini `kan bertepi, perit tiada terpemanai ini pastilah polang-paling," lirih Kembara, tak kalah lirih dengan desir angin yang tak jemu mengombak telaga nan teduh ini.
TAPAK BERDERAP (15) TERATAI itu menepi, namun halus sulurnya mencengkeram dasar telaga, tak tecerabut. Lebar daun padma itu hampir tangkup, Sang Kembara pun membentangkannya dan melayarkan lagi ke tengah. Biarlah seroja putih itu bersemayam di sana walau telaga tak sebening dahulu. Setidaknya, ya setidaknya, penuh sunyi dan damai.