Postingan

TAPAK BERDERAP (38) BERINGSUT dari puncak kegelisahan, akhirnya kian terjagalah Sang Kembara bahwasanya telaga teduh ini telah membius. Nyanyian alam memang sunyi belaka, namun kehidupan itu sendiri haruslah bergulir sebagaimana mestinya. Keluar dari jerat sunyi yang acap kali menampakkan kelam malam tak berbintang. Kini, Kembara merindukan samudra. Mengarungi lautan lepas dengan terpaan badainya. Seperti gejolak jiwa saat ini menuju pengembaraan sejati menantang. Wahai sang bahari, kelana laut menjelang.
TAPAK BERDERAP (37) * KEMARAU menghampiri telaga itu. Sang Kembara pun berhenti sejenak setelah sekian lama melangkah melintasi hari-hari, gelap maupun terang, dalam pemahaman makna semu dan nyata. Kering pada musim ini memang tak terkira. Dan hanyalah keteduhan tepian telaga yang bisa sedikit membasuh keletihan jiwa Kembara, kendati keletihan itu sendiri sulit diingkari. Letih ini memang tetap ada, walau tak terasakan lantaran adanya pemahaman arti kehidupan. Letih di musim ini juga tak menggoyahkan langkah Sang Kembara. Lintasan panjang masih terbentang, menanti ditelusuri dan dikaribkan. Dan adakah penantian yang tersisa padamu? * setelah mendengar lantunan Kembara Lintas Panjang (Ebiet G. Ade)
TAPAK BERDERAP (36) SEMBURAT kilau rembulan memantul malu-malu di tengah telaga. Pantulan seberkas cahaya yang tak menyilaukan Sang Kembara. Walau pantulan kilau itu berbeda dengan cermin bayang yang berujung sesat belaka. Dan cermin telaga bening ini jelas tak sebanding cermin buram bayang, buram masa lampau lantaran cermin telaga Kembara adalah kerinduan teramat dalam. Kerinduan yang mungkin sulit dimengerti siapa pun. Dan jejak langkah Sang Kembara memang teramat panjang. Janganlah kiranya menebak dan menghentikan langkahnya. Dengarkan saja tapak yang berderap, berderap ke satu tujuan hakiki nan mulia. Dengan berkarib kesunyian alam, keheningan malam, dan kebeningan telaga kerinduan.
TAPAK BERDERAP (35)* SENANDUNG malam mengusir keheningan telaga ini. Walau kesunyian dan keheningan hampir tiada beda bagi Sang Kembara. Keduanya sama-sama menanti serta memburu bayang-bayang kerinduan. Tiada beda pula, bila kegetiran ini memang tak bersambut. Ya, kerinduan ini bagaikan telaga yang senantiasa menyambut Kembara dengan ketenangan, tanpa badai seperti di laut lepas. Dan senandung malam kali ini berbisik halus. Seakan mengantarkan suatu alunan lagu yang tak asing bagi Kembara. * Terinspirasi dari Apakah Ada Bedanya , Ebiet G. Ade
MURKA GELOMBANG PAGI masih buta sekali tatkala samudra yang biasanya ramah itu mengganas. Lidah gelombangnya menyapu semua yang ada di bibir banyak pantai di pesisir selatan negeri ini. Tak peduli pondok milik si miskin maupun sang berdasi. Semua dihantam, semuanya diterjang. Sebuah lidah gelombang melebihi atap rumah, lidah lainnya bahkan nyaris mencapai tinggi pohon kelapa. Jerit tangis dan panik berbaur suara orang banyak berlari. Bukan tsunami memang, namun murka gelombang laut toh menghancurkan banyak pondok reot maupun gemerlap, baik perkampungan orang laut ataupun hunian rehat kaum pelancong berkantong tebal. Tak banyak jiwa-jiwa yang melayang. Ini mungkin lantaran banyak penduduk negeri ini yang terpaksa bersahabat dengan bencana. Maklum, negeri ini berjuluk tak resmi: Negeri Bencana. Ironis, sungguh ironis. Padahal semenjak negeri ini dikenal dengan sebutan Nusantara, para kawula tersohor ramah kepada sesama makhluk hidup maupun bersahabat dengan alam. Tak berlebihan bila dise...
TAPAK BERDERAP (34)* LEMBAYUNG senja menggelayut indah di tepian telaga ini, ketika Sang Kembara meninggalkan kerisauan dan melabuhkan haluan sunyinya. Mungkin masih ada tersisa butiran asmara di telaga ini setelah lelah mengejar bayang-bayang. Sang malam memang mencoba menenggelamkan kesunyian ini, namun tak kuasa. Terlebih kenangan hangat ramah jemarimu terasa kuat menjelma. Kerinduan mendalam, kerinduan tak tertahan lagi. Kerinduan `kan hadirmu... * Terinspirasi dari Elegi Esok Pagi dan Aku Ingin Pulang (Ebiet G Ade).
TAPAK BERDERAP (33) SANG Kembara kembali menuju telaga nan teduh itu. Sepanjang jalan, rinai hujan merintik lembut menyapa kerinduan hatinya akan telaga damai. Seiring dengan senandung puisi: Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan juni Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan juni Dihapuskannya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan juni Dibiarkannya yang tak terucapkan Diserap akar pohon bunga itu (*) Tapak Kembara pun menginjak tepian telaga. Sang telaga pun seakan berbisik lembut: Akulah si telaga: berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya; sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja -- perahumu biar aku yang menjaganya (**) Kelopak padma putih nan suci itu pun merekah perlahan, menyambut kehadiran Sang Kembara. (*) (Hujan Bulan Juni, Becoming Dew, Sapardi Djoko...