Postingan

TEARS IN HEAVEN by: Eric Clapton Would you know my name If I saw you in heaven? Would it be the same If I saw you in heaven? I must be strong And carry on, 'Cause I know I don't belong Here in heaven. Would you hold my hand If I saw you in heaven? Would you help me stand If I saw you in heaven? I'll find my way Through night and day, 'Cause I know I just can't stay Here in heaven. Time can bring you down, Time can bend your knees. Time can break your heart, Have you begging please, begging please. Beyond the door, There's peace I'm sure, And I know there'll be no more Tears in heaven. Would you know my name If I saw you in heaven? Would it be the same If I saw you in heaven? I must be strong And carry on, 'Cause I know I don't belong Here in heaven.
BEBERAPA JAM MENJELANG PENCOBLOSAN TAK sampai delapan jam lagi, sekitar 155 juta orang bakal memilih kandidat presiden. Waktu yang sangat singkat, namun cukup untuk sebuah "serangan fajar". Serangan fajar? Boleh jadi, bagi-bagi uang atau barang untuk mengarahkan sejumlah konstituen untuk memilih kandidat tertentu bakal mewarnai pemilihan presiden kali ini. Apalagi tiga hari terakhir, khalayak disuguhkan maraknya kampanye negatif, propaganda, fitnah, isu hingga fatwa haram golput dan presiden perempuan. Pelakunya siapa lagi, kalau bukan kedua kubu dari dua pasangan capres-cawapres yang bakal bertarung pada Senin ini. Begitulah ingar-bingar panggung politik di Tanah Air. Pertanyaan terpenting adalah: Siapakah kandidat yang bakal tampil sebagai pemenang? Hitung-hitungan di atas kertas mungkin tak banyak berarti, soalnya banyak kemungkinan bisa terjadi. Kalau melihat pilpres putaran pertama, 5 Juli silam, pemilih hanya mencapai sekitar 100 juta. Sementara 55 juta lainnya m...
JELAJAH BISU DAN SUNYI LINCAH jari menepi asa, seiring sorot mata meredup senja putaran benak mengalun dahaga, sewaktu pertanyaan arti hidup menyeruak kuat gelak tawa menghambur getir, senyum tanpa makna pun menebar sia-sia. BISU dalam kebisuan sunyi di kesunyian bisu pun menjemput sunyi Sang Kebisuan pun melantang geram menantang kesunyian tak kunjung menepi mengakhiri jelajah tanpa makna Huh, bosan aku!
LOVE SICK by Bob Dylan I'm walkin' through streets that are dead Walkin', walkin' with you in my head My feet are so tired My brain is so wired And the clouds are weepin'.   Did I hear someone tell a lie? Did I hear someone's distant cry? I spoke like a child You destroyed me with a smile While I was sleepin' .   I'm sick of love that I'm in the thick of it This kind of love, I'm so sick of it . I see, I see lovers in the meadow I see, I see silhouettes in the window I'll watch them 'til they're gone And they leave me hangin' on To a shadow. I'm sick of love, I hear the clock tick This kind of love, ah, I'm love sick. Sometimes the silence can be like thunder Sometimes I wanna take to the road and plunder Could you ever be trueI think of you And I wonder. I'm sick of love, I wish I'd never met you I'm sick of love, I'm tryin' to forget...
KEPADA WANITA (Bagian Kedua)   Berat napasmu mengiringi langkah hidupku canda kecilmu menerbitkan hasratku membelah kesunyian jiwa mengombak dahaga dahaga mengangkasa sirna   Turun menghujan impian membanjiri asa menggelegak dan meletup
KEPADA WANITA   Kepada wanita yang mampu memacu denyut nadiku menderaskan aliran darahku menjungkirbalikkan logikaku, tapi menenggelamkan hasratku   Kepada wanita, di mana sejuta untaian kata indah menari sejuta lirik merdu mengalun sejuta rasa madu mengendap dan, jutaan kenikmatan menggoda   Namun, kesunyian hati tak padam menguap kegelisahan makin melaksa benak Semua itu menancap sembilu Jerit hatiku memberontak kepada wanita itu...
"BAU BUSUK" MENEBAR SEANTERO NEGERI BAU busuk di mana saja tetaplah menyengat hidung. Dari bau kentut hingga bangkai sama saja, semuanya polusi hidung. Ngomong-ngomong soal bau busuk tersebut jadi teringat peristiwa bersejarah di negeri ini yang baru lewat lima hari. Tepatnya, pemilihan umum presiden secara langsung yang pertama dalam perpolitikan di Bumi Pertiwi. Ada adigium yang mengatakan "Suara Rakyat" adalah "Suara Tuhan". Uhm... Jadi bolehlah disebut, suara lebih dari 100 juta pemilih--jumlah ini bagian dari sekitar 155 juta rakyat Indonesia yang mempunyai hal pilih--mewakili kehendak Sang Maha Kuasa. Akan tetapi, benarkah begitu? Padahal, aroma kecurangan rekap surat suara maupun manipulasi data penghitungan menyeruak bersamaan atau sesudah pemilu eksekutif, 5 Juli silam. Ada kabar yang mengatakan, sejumlah tim sukses mengarahkan pemilih mencoblos pasangan calon presiden-calon wakil presiden tertentu dengan berupa "serangan fajar...