Postingan

PERWIRA DAN KSATRIA SORAK-sorai bergema dari alun-alun dekat Kraton Majapahit, ratusan tahun lampau. Ribuan rakyat baik muda dan tua mengerumuni sebuah arena di tengah alun-alun tersebut. Seorang pemuda bertubuh kekar tengah berhadapan dengan seekor lembu jantan yang nampaknya sangat buas. Binatang bertanduk ini mengais-ngais kaki belakangnya, siap menerjang musuhnya itu. Lenguhan dan dengus kencang terdengar dari kedua lubang hidung lembu tersebut. Hewan ini menatap lawannya dengan tajam. Sedetik kemudian, banteng ketaton ini menubruk sang pemuda yang hanya mengenakan sarung dan ikat kepala. Perempuan-perempuan sontak menjerit membayangkan tubuh lelaki tampan yang berdada bidang itu remuk. Wutt ... tak dinyana pria ini mampu berkelit. Dengan cekatan, dia kemudian menangkap kepala banteng ngamuk itu. Krak .... leher lembu jantan patah setelah sang pemuda memelintir tanduknya. Tubuh besar hewan itu pun ambruk menghujam bumi. Sekejap mengejang, banteng tersebut pun binasa. Adegan d...
Lagi males nulis, nich. Cuma satu dalam benak gue, peace or not to be, wueeeeeeekk....... he..he..he....
MENGAPA M E M B E R O N T A K didedikasikan bagi yang merasa tertindas ( Tulisan Pertama dari Dua Tulisan ) PENA sejarah mencatat tak terhitung lagi darah yang tumpah ke bumi akibat pergolakan atau pemberontakan, sejak ribuan tahun lampau hingga kini. Makanya tak heran, bila timbul suatu pertanyaan mengenai sebab-musabab berkobarnya suatu pemberontakan. Seiring perkembangan zaman, rangkaian tudingan mungkin ditujukan kepada ekses sistem politik. Bukan apa-apa, soalnya urusan kuasa-menguasai, rebut-merebut, tindas-menindas acapkali ditengarai menjadi pangkal pokok suatu pemberontakan atau perlawanan dicetuskan. Patut pula tak dilupakan mengenai sejumlah keadaan sosial yang mematangkan situasi untuk memunculkan sebuah pergolakan di muka bumi. Dalam kerangka pemikiran seperti itulah, belum lama berselang, penulis mencoba membuka kembali ingatan ketika mengikuti mata kuliah Sejarah Gerakan Sosial. Dari perpustakaan ke perpustakaan, ternyata memang banyak ilmuwan yang men...
"Belajar tanpa berpikir akan menghasilkan KEKONYOLAN BELAKA, berpikir tanpa belajar adalah BERBAHAYA". (petikan filsafat Tao)
Fakta dan Mitos yang Menyertai Wali Sanga "Wali Sanga" artinya adalah sembilan orang wali. Masing-masing adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Memang, mereka tak hidup pada kurun waktu yang bersamaan. Kendati demikian, satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Ada teori yang menyebutkan bahwa sebenarnya Wali Sanga berasal dari Negeri Tiongkok. Alasannya, delapan dari sembilan Wali ini adalah orang Tionghoa dengan gelar Sunan. Artinya "Su" dari Suhu atau dialek Fukien Saihu, Guoyu (Mandarin) Szefu dan "nan"= selatan. Wali yang satunya, yaitu yang kesembilan, bergelar Syekh dari bahasa Arab "Sheik". Bukti lainnya, hingga Perang Dunia II berkecamuk, rakyat di Jawa Timur menamakan seorang laki-laki Tionghoa totok "kiai" yang berarti guru agama Islam, meskipun or...
Cadas Pangeran dan Kekejian Daendels SEBELAS hari seusai Hari Raya Idul Fitri 1423 Hijriah, ingatan sebagian pemudik masih membekas. Kemacetan hingga kecelakaan lalu lintas terjadi di mana-mana, terutama Jalur Pantai Utara Pulau Jawa sepanjang sekitar 1.000 kilometer. Hampir setiap tahun, kecelakaan saat arus mudik maupun balik merenggut tak kurang 30 nyawa. Terlepas dari urusan nyawa-nyawa yang melayang itu, bisa dibayangkan betapa repotnya para pemudik bila tak ada Jalur Pantura. Kendati demikian, tak banyak yang mengetahui bila jalan raya yang membentang antara Anyer, Banten dan Panarukan, Jawa TImur, itu menyimpan sejumlah peristiwa kelam dan berdarah pada awal pembuatannya. Boleh dikatakan, jalan itu dibangun dari keringat dan mayat bangsa Indonesia. Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels yang memprakarsai pembangunan jalan "maut" tersebut pada tahun 1809. Dahsyatnya, proyek jalan itu hanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Jalur Anyer-P...
MOHAMMAD IQBAL "Jiwa dan Tuhan" Dipetik jari-jemari-Mu, mengalun nada dari jiwaku Bagaimana Kau bisa berada dalam jiwa, namun di luar? Bersama-Mu apiku menyala, tanpa Kau padamlah ia Betapa Kau bisa jauh dariku, O Sarwa Segalaku? Siapa yang mencarimu? Sakit apakah pikiranmu? Tuhan nyata dan kau adalah tirai penutupnya Temui Dia maka jiwamu yang terlihat Cari dirimu, tiada selain Dia kaudapat Dalam perintah "Kun!" kau berkisar Kau adalah Tanda yang tak seorang tahu Berjalanlah lebih waspada lintas jalan hidup Padang luas dunia terliput olehmu jua Tak seorang tahu asal Diri Fajar dan petang bukan milikmu Dari Guru Angkasa Raya kudengar hikmah ini Laut yang beriak sama tua dengan ombaknya Di kuncup mawar hati menyaksi rahasia hidup Tersingkap Kebenaran, terlihat Kemungkinan Walau dari kegelapan bumi si mawar muncul Kilat pandangnya menyatu dengan matahari kemilau Taman dan rumput di bawah cahaya terang-Nya Anggur dan mawar menghiasi...