<body text="white"><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=3958422&amp;blogName=..%3A%3Aanrynovh%3A%3A..&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fanri.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=in&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fanri.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
[ Jumat, Januari 08, 2010 ]
 
Gus Dur Wafat Meninggalkan...


Liputan6.com, Jakarta:


Kalau aku jadi orang dermawan,
itu karena ayahku yang mengajarkan.

Kalau aku jadi orang toleran,
itu karena ayahku yang menjadi panutan.

Kalau aku jadi orang beriman,
itu karena ayahku yang menjadi imam.

Kalau aku jadi orang yang rendah hati,
itu karena ayahku yang menginspirasi.

Kalau aku jadi orang yang cinta kasih,
itu karena ayahku yang memberi tanpa pamrih.

Kalau aku membuat puisi ini,
itu karena ayahku yang rendah hati.


Enam larik puisi bertajuk "Karena Ayahku" itu dibacakan penuh keharuan oleh Inayah Wulandari, putri bungsu Kiai Haji Abdurrahman Wahid, saat tahlilan mendiang ayahandanya di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa malam silam. Linangan air mata dari Inayah Wahid pun membuat banyak orang dari ribuan hadirin tak kuasa turut sedu sedan.

Masih diselimuti keharuan mendalam, Inayah berucap: "Ini puisi yang saya buat untuk bapak tiga bulan yang lalu dan saya bacakan di depan bapak. Tapi bapak tidak berkomentar. Tidak bilang bagus, juga tidak bilang jelek. Seperti biasanya bapak," ujarnya mengenang, seperti dikutip banyak jurnalis yang hadir.

Sekalipun ketika itu sang ayah atau akrab disapa banyak orang Gus Dur tak memberi komentar, hal ini tak membuat Inayah kecewa. "Yang terpenting buat saya, saya telah menyampaikan puisi saya. Saya tahu pasti bapak senang mendengarnya," ucapnya.

Malam yang sama tapi di tempat berbeda, Zannubah Arifah Chafsoh yang juga merupakan putri mendiang presiden keempat Indonesia tersebut mengingatkan tiga pesan ayahnya kepada puluhan ribu hadirin dalam peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur. "Banyak hal yang dapat dijadikan suri tauladan dari Gus Dur, sehingga Gus Dur menjadi dekat di hati banyak orang dan akhirnya banyak orang yang merasa kehilangan," kata wanita yang akrab disapa dengan panggilan Yenny Wahid di hadapan massa yang membanjiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"...Ada tiga pesan Gus Dur yang perlu kita teladani, yakni keikhlasan, ilmu dan akhlak, serta berani menegakkan keadilan," kata Yenny, jurnalis perempuan yang sekarang aktif sebagai politisi.

Dukacita memang bukan milik keluarga Gus Dur. Tak terhitung elemen bangsa yang merasa kehilangan. Mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para pejabat maupun mantan pejabat, tokoh agama hingga anak sekolah turut menundukkan kepala. Terutama, saat prosesi pemakaman mantan presiden sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama itu dikebumikan di pemakaman Pesantren Tebuireng, bersebelahan dengan pusara ayah dan kakeknya yang masing-masing adalah tokoh maupun pendiri NU.

Bendera setengah tiang selama tujuh hari dan gelar Bapak Pluralisme pun mengiringi kepergian Gus Dur yang disegani oleh kawan maupun lawannya itu. Semasa hidup, lelaki kelahiran Jombang 4 Agustus 1940 itu memang banyak menyumbangkan gagasan maupun pemikiran terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Pun demikian kiprah Gus Dur di panggung politik nasional. Sebut saja di antaranya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1984-1998), Ketua Forum Demokrasi (1990), dan menduduki kursi RI 1 (mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001) [baca: Dari Guru, Jurnalis, Hingga Jadi Presiden].

Kiprah mantan Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994) itu pun diakui kalangan internasional. Buktinya, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Benediktus XVI, mengirimkan surat belasungkawa. Surat dari Vatikan ini kemudian dibacakan Romo Benny Susetyo dalam acara tahlilan tujuh hari wafatnya Gus Dur, Selasa lalu.

Dan tak bisa dipungkiri, kini sepekan lebih setelah kepergian Gus Dur, dukungan agar mantan presiden itu dijadikan pahlawan nasional terus bergulir. Bermula dari usulan sejumlah tokoh maupun ulama NU di beberapa daerah di Tanah Air. Mereka mengusulkan agar pemerintah Indonesia untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur. Penganugerahan tersebut bertujuan untuk mengenang kebesaran Gus Dur sebagai tokoh nasional.

Usulan serupa pun digagas banyak tokoh maupun politisi seperti Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Sukarnoputri. Tak ketinggalan dukungan dari dunia maya. Di situs jejaring sosial seperti Facebook pun digalang dukungan untuk pemberian gelar pahlawan nasional bagi Gus Dur.

Namun, di mata budayawan Emha Ainun Nadjib, Gus Dur lebih dari sekadar pahlawan. Pandangan ini disampaikan Emha alias Cak Nun saat hadir dalam peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang. Bagi Cak Nun, mantan presiden ini adalah sosok yang hebat, dekat, dan sangat dihormati.

Usulan gelar pahlawan bagi Gus Dur juga ramai dibicarakan para wakil rakyat di Senayan. Belakangan, Partai Golongan Karya pun turut mendukung dengan syarat almarhum mantan Presiden Soeharto juga digelari Pahlawan Nasional. "Saya juga mengusulkan Presiden Soeharto untuk diangkat jadi Pahlawan Nasional," kata Nudirman Munir dari Fraksi Partai Golkar, Senin silam.

Hanya saja, usulan Soeharto sebagai pahlawan nasional selalu menimbulkan pro dan kontra. Para aktivis antikorupsi menyatakan tak setuju dengan alasan proses hukum kasus korupsi Soeharto tak pernah tuntas. Selain itu mereka yang pernah tertindas selama masa pemerintahan Soeharto juga tentu menentang usulan ini.

"Memang ada syarat dalam undang-undang yang menghambat Soeharto, yaitu ada kasus hukum yang belum terselesaikan dan itu tidak boleh ada," kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD usai acara Charta Politika Award, Senin lalu. Mantan Menteri Pertahanan di era Gus Dur ini mengakui, pengajuan usulan pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto sudah dilayangkan. Namun, pengajuan usulan itu menemui kendala di tengah jalan.

Kendati demikian, menurut mantan politisi Partai Kebangkitan Bangsa, hambatan hukum penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto itu tidak dialami Gus Dur. Untuk Buloggate yang pernah menggulingkan Gus Dur dari kursi presiden, itu bukan kasus hukum. "Kalau Gus Dur tidak ada kasus hukum. Buloggate itu kasus politik. Kalau politik tidak jadi penghalang, tapi kalau kasus hukum jadi masalah," tandas Mahfud.

Adanya usulan agar Gus Dur sebagai pahlawan nasional mendapat tanggapan dari keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Sebelum dijadikan sebagai pahlawan nasional, mereka meminta agar nama baik presiden keempat Republik Indonesia itu dikembalikan lebih dulu.

"Nama baik Gus Dur dikembalikan dulu, karena dulu dilengserkan," jelas Gus Hakam Malik, sepupu Gus Dur. Sekadar menyegarkan ingatan, Abdurrahman Wahid dilengserkan oleh MPR, 24 Juli 2001. Saat itu, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua DPR Akbar Tandjung. Gus Dur dilengserkan sebagai presiden terkait kasus "Buloggate" dan "Brunaigate".

"Yang bertanggung jawab mengembalikan nama baik gusdur dari kursi presiden adalah Ketua MPR, yang saat itu dipegang Amien Rais, dan Ketua DPR Akbar Tanjung," imbuh Gus Hakam. Malah, jelas Gus Hakam, setelah terjadi tiga kali pergantian presiden, kasus "Buloggate" dan "Brunaigate" masih belum terungkap.

Penyelesaian masalah politik seperti itu memang pelik, mungkin perlu kearifan banyak pihak. Hanya saja, ada satu kendala lain yang mungkin menghambat. Ternyata, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2009 menyebutkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada seseorang bisa dilakukan setelah mendapat masukan dari Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Dan masalahnya, dewan tersebut belum terbentuk.

Boleh jadi, Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai solusi terhadap kendala aturan perundang-undangan tersebut. Apalagi, Kamis pekan ini, Badan Musyawarah (Bamus) DPR akan membahas usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. "Sudah diagendakan, akan dibicarakan dalam rapat Bamus," kata Ketua DPR Marzuki Alie.

Marzuki mengatakan, pembahasan usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum Gus Dur dilakukan karena ada usulan dari sejumlah fraksi DPR. Yaitu, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Tentunya, hasil pembahasan Bamus DPR dinantikan banyak pihak. Terutama, kalangan yang merasa kehilangan Bapak Bangsa nan humoris tersebut [baca: Tujuh Hari Perginya Guru Bangsa].

Pepatah lama mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan jasa para pahlawannya. Kalaupun ada yang masih mempersoalkan kepahlawanan Gus Dur, mungkin waktu dan pena sejarah jualah yang akan menjawabnya. Dan, seolah masih terngiang jelas ucapan paling populer Gus Dur bila tindakan maupun langkahnya dipertanyakan orang, yaitu: "Gitu aja kok, repot!"(ANS/dari berbagai sumber)

http://berita.liputan6.com/mendalam/201001/257778/Gus.Dur.Wafat.Meninggalkan...

AnryNovh [3:31 AM] ::

[ Senin, September 21, 2009 ]
 
KADO LEBARAN DARI MOJOSONGO *

TIGA hari menjelang Lebaran, kabar yang sekian tahun ditunggu-tunggu itu akhirnya datang. Tanpa publisitas televisi secara berlebihan seperti saat pengepungan di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Agustus silam, tim Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiterorisme melumpuhkan empat orang yang diduga kuat teroris hingga tewas, termasuk korban cedera seorang perempuan hamil. Menurut polisi, wanita yang kemudian diketahui bernama Putri Munawaroh ini turut tertembak lantaran tak mengindahkan peringatan polisi agar keluar dari rumah kontrakan yang sedang dikepung. Rumah ini terletak di Kampung Kepuhsari, tepatnya di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.

Dari tengah malam hingga pagi itu, polisi memang belum dapat memastikan identitas orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut. Yang jelas, rentetan tembakan kerap beberapa kali terdengar memecah kesunyian malam kampung gersang yang terletak di pinggiran utara Kota Solo, Jawa Tengah, tersebut. Dan sedikitnya dua ledakan terdengar dari rumah sewaan yang dikelilingi pepohonan itu. Rumah itu diketahui ditempati Susilo alias Adib. Lelaki ini keseharian dikenal para tetangga sebagai pengurus sapi di sebuah pondok pesantren di Mojosongo. Tak dinyana pria ini justru belakangan diketahui bagian dari jaringan teroris.

Ketika terang tanah, satu ambulans dan sebuah mobil jenazah tampak meluncur lokasi kejadian. Terutama, setelah tim pemburu teroris memastikan target mereka telah dilumpuhkan. Sejak itulah berembus kabar Noordin yang disebut-sebut salah seorang pemimpin tandzim Al-Qaidah wilayah Asia Tenggara tewas terbunuh. Selain menembak empat tersangka teroris, polisi meringkus tiga orang. Tak cuma itu, tim Densus 88 menemukan delapan karung bahan peledak.

Menurut juru bicara Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Polisi Nanan Sukarna, polisi menemukan pula sejumlah granat dan senjata di rumah yang disewa selama lima bulan oleh pasangan Adib Susilo dan Putri Munawaroh tersebut. Polisi juga mendapati dua komputer jinjing merek Acer dan Toshiba, satu handycam, dua telepon genggam, buku tabungan, dan dokumen tertulis.

Kendati demikian, tak banyak warga mengetahui secara persis proses evakuasi empat jenazah yang diduga teroris tersebut. Yang jelas, Kamis siang polisi segera bergerak cepat mengurus keempat jasad yang tewas dalam baku tembak di Kampung Kepok Sari, Mojosongo. Hari itu juga keempat jenazah diterbangkan ke Ibu Kota, untuk proses identifikasi di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Kepala Polri atau Kapolri pun datang ke Rumah Sakit Polri. Bahkan, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso turut mendampingi Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri.

Tentu saja, perhatian dari dua pucuk pimpinan militer dan kepolisian ini kian menguatkan dugaan salah satu teroris yang melayang nyawanya di Mojosongo adalah Noordin M. Top. Pria berusia 41 tahun asal Malaysia ini memang sedang diburu aparat karena terlibat banyak pengeboman di Indonesia. Terakhir, Noordin disebut-sebut di belakang serangkaian aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Juli silam [baca: Jejak Bom dan Perburuan Teroris].

Noordin memang terkenal lihai meloloskan diri. Betapa tidak? Sembilan tahun gembong teroris di Asia Tenggara ini diburu polisi di Indonesia, belasan kali pula dia lolos. Sepak terjang lulusan Universiti Teknologi Malaysia ini pun sangat menakutkan. Bersama Doktor Azahari, Noordin menebar teror di Tanah Air, yakni berkali-kali kedua warga Malaysia itu terlibat atau mendalangi peledakan bom di Bali dan Jakarta. Setelah perburuan panjang, Azahari tewas dalam pengepungan di Kota Batu, Jawa Timur, empat tahun silam. Setahun kemudian, Noordin pun nyaris masuk dalam genggaman polisi ketika penyergapan besar-besaran di Wonosobo. Pun dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, bulan silam. Noordin yang sangat piawai merekrut anggota Jamaah Islamiyah atau calon pelaku bom bunuh diri itu diyakini tewas meskipun belakangan tidak terbukti [baca: Noordin M(emang) Top].

Perburuan terhadap dedengkot teroris di Indonesia dan Malaysia dan itu akhirnya usai. Hanya hitungan jam setelah empat jenazah teroris tiba di Jakarta, Kapolri Bambang Hendarso memastikan salah satu korban tewas dalam penggerebekan di Mojosongo, Solo, adalah Noordin. "Berdasar sidik jari, terdapat kesamaan pada 14 titik, baik jari kiri maupun kanan identik dengan DPO (Daftar Pencarian Orang) yang sembilan tahun kita jadikan target untuk kita tangkap. Dan dia adalah Noordin M Top," ujar Kapolri di Markas Besar Polri, Jakarta.

Menurut Jenderal Bambang Hendarso, keberhasilan tim Densus melumpuhkan empat teroris dalam penggerebekan Kamis pagi itu menjadi berkah bagi bangsa Indonesia. "Ini adalah berkah di bulan Ramadan bagi seluruh bangsa Indonesia." Kapolri menambahkan, selain Noordin, korban yang tewas adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah (pengebom Kedutaan Besar Australia pada 2003), serta Susilo alias Abid yang menghuni rumah di Mojosongo, Ario Sudarso alias Aji alias Suparjo Dwi Anggoro alias Dayat alias Mistam Husamudin. Sementara korban luka adalah Putri Munawaroh yang dirawat di RS Polri yang tak lain istri Susilo.

Dua hari kemudian, kepolisian pun memastikan satu dari empat jenazah tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Mojosongo, Solo, adalah Noordin M. Top. Kepastian ini diperoleh setelah Mabes Polri melakukan tes asam deoksiribonukleat (DNA) terhadap jenazah tersebut yang dicocokkan dengan contoh DNA dari ketiga anak Noordin. Kepastian ini diungkapkan juru bicara Polri, Nanan Sukarna.

Bila tak ada pencocokan sidik jari atau tes DNA, polisi memang kerepotan. Dari sepuluh wajah Noordin yang dibuat secara rekayasa oleh kepolisian, ternyata tidak satu pun yang mirip dengan wajah sebenarnya. Dalam foto pascapenggerebekan di Mojosongo, Solo, sang gembong teroris tampak berjanggut panjang dan berkumis.

Sejatinya, sebelum penyergapan di Mojosongo, polisi sedang memburu Urwah alias Bagus Budi Pranoto, bekas terpidana terorisme yang pernah ditangkap polisi pada Juli 2004. Urwah lolos dalam operasi di Solo pada 7-8 Agustus silam. Dan usai membekuk Rohmad Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu di Solo, Rabu siang, polisi langsung menuju rumah kontrakan Susilo di Kepuhsari. Nah, sesuai keterangan Bejo, Urwah ada di rumah Susilo. Bejo sendiri merupakan rekan Urwah selama ini.

Ternyata, tim pemburu teroris sedang mujur. Saat penyergapan yang diwarnai baku tembak, terungkap ada dua buronan penting di kediaman Susilo, yaitu Ario Sudarso dan Noordin M. Top. Adapun Ario Sudarso adalah perakit bom yang juga melatih Sugi, perakit bom di kelompok Palembang yang diringkus pada 2008.

Terlepas benar tidaknya ada unsur keberuntungan, banyak kalangan baik dalam maupun luar negeri memuji keberhasilan Polri. Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan apresiasi terhadap Polri lantaran melumpuhkan gembong teroris yang paling dicari di dalam negeri.

Pujian juga datang dari luar negeri. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan, tewasnya Noordin M. Top adalah prestasi signifikan yang akan membuat kawasan Asia Tenggara lebih aman. "Ini adalah prestasi signifikan yang akan membuat Indonesia dan kawasan lebih aman," kata Lee dalam surat kepada Presiden Yudhoyono, seperti dirilis Kementerian Luar Negeri Singapura.

Seperti sejawatnya dari Singapura, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd memuji dan menyampaikan selamat kepada Indonesia. "Ini adalah operasi yang sangat sulit dan memakan waktu panjang. Kredit (keberhasilan) ini pantas diberikan untuk bangsa Indonesia lewat aparat keamanannya yang telah menunaikan tugas ini," katanya dalam sebuah wawancara dengan ABC AM, Jumat pagi.

Sukses Polri pun mendapat pujian dari Amerika Serikat. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Philip J. Crowley menyatakan, penggerebekan yang dilakukan Kepolisian Indonesia itu sebagai kemajuan penting. "Tentu saja, ini menunjukkan kemajuan penting yang dicapai Indonesia dalam memerangi kalangan politik garis keras," kata Crowley, menjawab pertanyaan sejumlah wartawan di Washington DC, AS, Kamis silam.

Namun, segala pujian itu dinilai secara hati-hati oleh Ketua Badan Pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat Institut Setara, Hendardi. Ia berpendapat, kematian Noordin M. Top tidak berarti terorisme di Indonesia menjadi lumpuh. Dalam siaran persnya, Ahad silam, Hendardi menyatakan, masih ada kader-kader baru yang telah didik dengan cara pandang "xenophobia" (kebencian terhadap sesuatu hal yang dianggap asing atau berbeda) dan pemikiran yang membenarkan tindak kekerasan.

Selain itu, menurut Hendardi, masih terdapat sejumlah orang yang dinyatakan buron yang hingga kini masih belum ditangkap polisi. Misalnya, Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad alias Syaifudin Jaelani. Semua itu, imbuh Hendardi, berpotensi menjadi cikal bakal teror baru di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, tewasnya Noordin M. Top diduga mengubah garis komando jaringan kelompok Noordin. Polisi mengaku mengantisipasinya. "Sepengetahuan saya sudah pasti akan jadi atensi dari tim (Densus 88), bahwa itu kemungkinan yang harus diantisipasi, sejak sekarang tentunya," kata juru bicara Mabes Polri Nanan Sukarna. Setelah tewasnya Noordin, kelompok ini diduga akan dikomandoi Syaifuddin Zuhri. Kemampuan Zuhri merekrut orang merupakan salah satu alasan yang membuatnya cukup berpengaruh.

Pandangan berbeda datang dari pakar terorisme dari Institute of Defence and Strategic Studies di Singapura, John Harrison. Seperti dikutip jaringan televisi Aljazeera, Harrison mengatakan, Noordin M. Top kemungkinan sulit digantikan karena sangat sedikit individu yang mampu mengkombinasikan kharisma, kemampuan organisasi dan jaringan yang dimilikinya.

Noordin M. Top diyakini menjadi pemimpin kelompok sempalan yang terkait dengan Jamaah Islamiyah yang berjuang mendirikan Negara Islam di Asia Tenggara. Pada 2005, dalam rekaman video, Noordin mengklaim dirinya perwakilan jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara, yang akan melakukan serangan terhadap warga sipil Barat dan membalas kematian orang muslim di Afghanistan.

Kini, petualangan penebar teror itu tamat. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso memastikan jenazah Noordin bisa diambil setelah Lebaran. Gembong teroris itu rencananya akan dimakamkan di kawasan Sungai Tiram, Johor Baru, Malaysia.

Dan, sukses Polri menewaskan Noordin seolah "kado Lebaran" untuk pemberantasan terorisme di Tanah Air. Bahkan, saat musim mudik Lebaran seperti sekarang, banyak orang menyempatkan diri menyaksikan rumah yang sempat dijadikan persembunyian teroris di Mojosongo itu.(ANS/Dari berbagai sumber)

http://berita.liputan6.com/mendalam/200909/244916/Kado.Lebaran.dari.Mojosongo

AnryNovh [9:01 PM] ::

[ Minggu, April 05, 2009 ]
 
DIPAKSA GOLPUT

MENJELANG perhelatan nasional, pemilu legislatif 9 April nanti, ternyata banyak permasalahan mencuat. Sebut saja dari kertas suara rusak, logistik pemilu terlambat hingga daftar pemilih tetap atau DPT yang bermasalah. Belum lagi soal keterlambatan laporan rekening dana kampanye sejumlah partai politik.

Sejumlah elite partai politik yang baru, terutama yang mengajukan diri sebagai calon presiden, pun khawatir. Boleh jadi mereka cemas upaya keras selama ini untuk menggalang dukungan, terutama dari kalangan akar rumput atau wong cilik, bakal sia-sia.

Wacana penundaan pemilu pun bergulir, tapi penyelenggara pesta demokrasi (KPU) bersikukuh pemilu tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Toh, tudingan tetap mengarah kepada KPU. Belum lagi sejumlah keputusan yang dikeluarkan KPU dianggap melanggar undang-undang. Ini jelas bukan tudingan main-main.

Dan, ini jelas menjadi makanan empuk bagi media massa elektronik maupun cetak. Pers pun rajin memberitakan kesemrawutan DPT dan sejumlah masalah tersebut. Kendati demikian, lagi-lagi KPU seolah bermoto The Show Must Go On. Komisi ini pun menjanjikan segala permasalahan dapat terselesaikan sebelum hari pencontrengan dimulai.

Soal akurasi dalam penetapan DPT memang dipertanyakan. Sebab, seperti pemberitaan di layar televisi dan halaman suratkabar maupun majalah, banyak DPT yang memang bermasalah di banyak daerah. Sebagai contoh, ada bayi dan orang yang sudah meninggal mendapat DPT. Pun demikian dengan anggota TNI dan Polri, ada yang mendapat DPT, padahal mereka tak mempunyai hak memilih. Sedangkan ada banyak warga negara yang seharusnya mempunyai hak pilih justru tak terdaftar.

Ini jelas ajaib. Di mana akurasi dan proses validasi ditempatkan dalam perhelatan akbar yang sangat menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan? Terlebih, komisi itu sempat meminta anggaran sebesar Rp 47,9 triliun.

Sebagai gambaran, Maret silam, KPU menetapkan jumlah pemilih untuk Pemilu 2009 sebesar 171.265.442 orang. Jumlah ini lebih banyak dari tahun 2004 yang mencapai sekitar 153,3 juta pemilih. Peserta pemilu tahun ini pun lebih besar, yakni mencapai 44 parpol, termasuk enam partai lokal di Aceh. Sedangkan pada Pemilu 2004 hanya sebanyak 24 parpol.

Akurasi data pemilih ibarat pepatah jauh panggang dari api. Hal itu sebenarnya bisa dibereskan segera bila memang KPU berniat dan bersungguh-sungguh. Bila tidak, jangan salahkan bila kelak banyak pihak menggugat. Dan bukan tak mungkin, tudingan manipulasi politik ditujukan kepada KPU.

Ataukah, ada "tangan-tangan gaib" yang memang sengaja memanipulasi data pemilih demi kepentingan kelompok atau golongannya? Boleh jadi, mereka takut dengan potensi golongan putih alias golput yang diprediksi bisa mencapai angka 30 persen--jumlah yang melebihi syarat pencalonan seorang capres. Angka 30 ini diperoleh dari perbandingan di sejumlah pilkada, terutama daerah yang padat penduduk.

Namun manipulasi itu, kalau memang benar adanya, justru dapat menyuburkan potensi golput di masa mendatang. Mereka yang hak pilihnya "dicerabut" lantaran kekacauan pendataan bisa berubah menjadi golput pada pemilu mendatang. Logika sederhananya, mereka dipaksa menjadi golput oleh ketidakberesan pemuktahiran data pemilih di negeri yang serba "ajaib" ini. Mendata saja tak becus, bagaimana menghitung hasil pemilihan nanti?(ANS/Berbagai sumber dan pengamatan)

AnryNovh [2:38 PM] ::

[ Jumat, November 28, 2008 ]
 
WOMAN *

Woman I can hardly express,
My mixed emotion at my thoughtlessness,
After all I'm forever in your debt,
And woman I will try express,
My inner feelings and thankfullness,
For showing me the meaning of succsess,
oooh well, well,
oooh well, well,

Woman I know you understand
The little child inside the man,
Please remember my life is in your hands,
And woman hold me close to your heart,
However, distant don't keep us apart,
After all it is written in the stars,
oooh well, well,
oooh well, well,

Woman please let me explain,
I never mean(t) to cause you sorrow or pain,
So let me tell you again and again and again,
I love you (yeah, yeah) now and forever,
I love you (yeah, yeah) now and forever,
I love you (yeah, yeah) now and forever,
I love you (yeah, yeah)....


*
song by John Lennon


AnryNovh [6:55 AM] ::

[ Rabu, Oktober 29, 2008 ]
 
DEBORAH *

I read your letter
I got it just the other day
You seem so happy
So funny how time melts away
It's such a pleasure
To see you growing
And how you're sending your love
Thru' the air today
I think of Heaven
Each time I see you walking there
And as you're walking I think of children
Everywhere
It's in your star sign
You growing stronger
I can't believe you
It's so good to care
Thru' enchantment - into Sunlight
Angels touched your eyes
Your Highness - Electric - So Surprise
Is this your first life
It seems as tho' you have lived before
You help me hold on
You have a heart like an open door
You sing so sweetly
My Love adores you
She does, she's thinking of you
Right now, I know
The summer's coming
I'll keep in touch so you're not alone
Then like a swallow, you'll fly away
Like birds have flown
So let me tell you
How much I love you
I'd make the songbirds sing
For you again
Well now it's goodnight
Sweet angel, read this letter well


* Jon Anderson and Vangelis





AnryNovh [5:17 AM] ::